Mengenal Kelebihan dan Kekurangan Investasi P2P

Mengenal Kelebihan dan Kekurangan Investasi P2P

Salah satu inovasi fintech adalah Peer to Peer Lending atau P2P. Investasi ini memberikan keuntungan bagi investor sekitar 18% hingga 20% dalam satu tahun. Akan tetapi, investasi ini memiliki tingkat resiko yang lebih tinggi dibanding investasi lainnya. Oleh sebab itu, langkah awal dalam memulai investasi adalah memahami resikonya.

Kenali karakteristik resiko investasi P2P sebelum mulai menjalaninya. Mengetahui kelebihan dan kekurangan investasi jenis ini, tentunya akan mempermudah Anda dalam mengelola investasi ke depannya. Lantas, apa saja kelebihan dan kekurangan P2P Lending?

Inilah Kelebihan Dan Kekurangan Investasi P2P Lending

Sebelum melakukan investasi, calon investor harus benar-benar memahami cara kerja P2P lending. P2P lending atau investasi fintech merupakan platform yang mempertemukan pendana atau investor dengan para peminjam. Biasanya, peminjam adalah pelaku UMKM atau pebisnis lainnya.

Tujuan dibuat platform ini adalah agar peminjam dan investor lebih mudah untuk berinteraksi. Dana investor yang disalurkan pada P2P lending akan digunakan oleh peminjam untuk menjalankan usaha atau keperluan lainnya. Investor mendapatkan untung dari bunga pinjaman yang dibayarkan oleh peminjam.

  • Kelebihan P2P Lending

P2P lending memberikan return yang lebih tinggi dari rata-rata inflasi. Perusahaan fintech di Indonesia berani memberikan return sebesar 15% sampai 20%. Padahal, inflasi rata-rata Indonesia hanya 8%.

Keuntungan ini tidak bisa didapatkan hanya dengan menabung uang di bank, dimana bunga yang didapat sekitar 0,5% sampai 1,5% per tahun. Belum lagi, uang di bank dapat terpotong untuk biaya administrasi, inflasi, dan masih banyak lagi.

Tenor yang ditetapkan oleh P2P sangat pendek, sehingga investasi ini cocok untuk jangka pendek. Masa pengembalian hanya 14 sampai 90 hari. Dengan kata lain, investor mendapat keuntungan paling lambat 90 hari. Selain itu, basis dari instrumen ini adalah teknologi. Sehingga, proses investasi P2P lending lebih mudah dan cepat.

Instrumen investasi ini dapat digunakan sebagai sarana melakukan diversifikasi. Pihak penyedia layanan P2P lending akan memberikan saran untuk meminjamkan dana kepada beberapa peminjam. Prinsip cara ini mencegah kerugian jika ada salah satu peminjam yang gagal membayar.

  • Kerugian P2P Lending

Resiko investasi P2P lending, di antaranya adalah terjadinya kredit macet yang disebabkan oleh peminjam. Hal ini terjadi ketika para peminjam telat membayar.

Banyak faktor yang menyebabkan peminjam tidak dapat melunasi hutang tepat waktu. Apabila hal ini terjadi, pihak P2P lending harus segera melakukan penagihan kepada para peminjam. Kemungkinan ini membuat investor tidak dapat menikmati keuntungan saat tenor yang sudah ditetapkan.

Ada yang lebih buruk dari kredit macet, yaitu peminjam mengembalikan sejumlah pinjaman atau disebut dengan gagal membayar. Resiko ini sepenuhnya ditanggung oleh investor. Pihak P2P tidak bertanggung jawab mengenai masalah ini. Transaksi pinjam meminjam pada plaform P2P lending merupakan perjanjian perdata, dimana segala resiko ditanggung oleh pihak peminjam dan investor.

P2P lending bukan investasi yang liquid, itu artinya investor tidak dapat mencairkan dana sewaktu-waktu. Investor dapat mencairkan dana pada akhir tenor yang sudah disepakati dengan peminjam. Jika kesepakatan tenor 90, peminjam dapat mengambil 90 hari kemudian, terhitung dari peminjam mencairkan dana.

Teknologi finansial ini memang dapat meningkatkan investasi ekonomi inklusif di Indonesia. Namun, tetap disertai dengan beberapa resiko. Setelah mempelajari kelebihan dan kekurangan P2P lending, kini Anda dapat menentukan apakah investasi ini sesuai dan cocok sebagai perencanaan keuangan di masa mendatang atau tidak.

Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail