Sejak Bernama Raja Garuda Mas Hingga Kini, RGE Mengelola Kelapa Sawit Berkelanjutan

Sejak Bernama Raja Garuda Mas Hingga Kini, RGE Mengelola Kelapa Sawit Berkelanjutan

Awalnya memang Indonesia diremehkan soal tata kelola kelapa sawitnya di hutan – hutan yang ada. Akan tetapi melalui Raja Garuda Mas yang kini sudah berganti nama menjadi grup Royal Golden Eagle semua pihak disadarkan tentang tata kelola perkebunan kelapa sawit. Hal ini karena Royal Golden Eagle melalui perusahaan yang berada dibawah naungannya memang berhasil membuktikan bahwa perusahaannya tidak pernah main – main soal tata kelola kelapa sawit berkelanjutan.

Mulai dari level kebijakan, industri dan level perkebunan terintegrasi dan diimplementasikan dalam satu sistem yang bernama Indonesia Sustainable Palm Oil. Karena itu soal tata kelola kita tak perlu riskan atau bingung dengan bagaimana tata cara dan keberlangsungan yang dijalankan karena semuanya sudah ada prosedur yang baku dan terarah tentang sistematika kerja didalamnya.

Tata Kelola Kelapa Sawit Berkelanjutan Raja Garuda Mas

ISPO dalam kaitannya dengan tata kelola kelapa sawit berkelanjutan Raja Garuda Mas memiliki tujuh prinsip yang menjadi indikatornya. Tujuh prinsip dalam ISPO (Indonesia Sustainable Palm Oil) diantaranya :

  • Terdapatnya sistem perizinan dan manajemen perkebunan
  • Penerapan suatu pedoman teknis budidaya dan tata kelola kelapa sawit
  • Pengelolaan dan pemantauan lingkungan
  • Rasa tanggung jawab terhadap pekerja
  • Rasa tanggung jawab terhadap sosial komunitas
  • Pemberdayaan kegiatan ekonomi di tengah masyarakat
  • Peningkatan usaha secara lebih berkelanjutan

Roundtable of Sustainable Palm Oil merupakan suatu asosiasi dari berbagai macam organisasi dan pemangku kepentingan yang tujuannya adalah dalam rangka mengembangkan serta melakukan implementasi standar untuk produksi minyak sawit secara lebih berkelanjutan. Mereka terdiri atas berbagai pihak perkebunan, distributor, pemrosesan, industri manufaktur, akademisi, investor serta juga sekaligus LSM bidang lingkungan.

RSPO sendiri dalam kaitannya dengan hal ini didirikan pada tahun 2004 dengan basis kursi asosiasi di Zurich, Swiss. Akan tetapi mereka juga memiliki kantor kesekretariatan di Kuala Lumpur, Malaysia dan juga kantor cabang di Jakarta. Proses pendirian dari RSPO sendiri pada awalnya memang terbilang unik. Mereka juga bahkan terinspirasi dari suatu konsep Meja Bundar yang terdapat didalam legenda Arthurian. Disinilah para kstaria dan juga Raja Arthur bisa duduk bersama untuk membicarakan tentang berbagai macam hal dimana semua anggota akan memiliki hak – hak yang setara. Konsep ini diadopsi juga oleh RSPO dimana para pemangku kepentingan dalam industri kelapa sawit bisa duduk bersama untuk bernegosiasi tentang berbagai macam isu dalam industri kelapa sawit secara khusus juga mengenai suatu praktik secara berkelanjutan.

Asian Agri juga turut bergabung ke dalam RSPO sejak tahun 2006 silam. Hal ini menjadi suatu langkah awal bagi anak perusahaan RGE yang satu ini demi mendapatkan standar sertifikasi secara global dalam rangka pengembangan dan tata laksana kebun sawit lestari dengan standar secara global. Sertifikat RSPO yang memberikan bukti tentang suatu praktik berkelanjutan dalam produk kelapa sawit diperoleh juga pertama kali oleh Asian Agri di tahun 2010. Kemudian dua tahun berselang, sertifikat serupa juga turut didapatkan oleh para petani mitra anak perusahaan Royal Golden Eagle yang satu ini.

Keberhasilan ini kemudian menjadikan Asian Agri semakin bersemangat demi menebar dan menyebar semangat keberlanjutan bagi para petani kelapa sawit swadaya. Sementara kemudian di tahun 2013, anak perusahaan dari RGE ini membina para petani swadaya demi mendapatkan RSPO yang mana hasilnya untuk pertama kali di Indonesia sudah bisa kita temukan suatu petani swadaya yang bisa mendapatkan sertifikat tersebut.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail